BeritaKebudayaan

SUASANA SPIRITUAL MAKAM MBAH ABDUL WAHID DI TENGAH PESONA KEINDAHAN ALAM KOTA SALATIGA

Shaina Yanfa Kiswari, Zahwa Aulya Kartika Putri, Aisyah Zahra Azsyahra

Makam Mbah Abdul Wahid

Makam Mbah Abdul Wahid merupakan salah satu destinasi wisata religi yang berada di Kota Salatiga. Mbah Abdul Wahid dikenal sebagai tokoh agama yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di daerah Tingkir Salatiga. Selain kiprahnya sebagai penyebar Islam, Mbah Wahid juga terlibat dalam Perang Diponegoro melawan penjajah Belanda. 

Menurut juru kunci makam, Mbah Abdul Wahid merupakan bagian dari laskar yang dipimpin oleh Kiai Modjo, yang direkrut langsung untuk melawan Belanda. Dalam perang yang berlangsung sekitar tahun 1825, Mbah Abdul Wahid bertugas sebagai telik sandi atau mata-mata yang mengawasi dan memantau pergerakan pasukan Belanda di wilayah Salatiga.  

“Mbah Wahid itu ditugaskan sebagai mata-mata Belanda oleh Kiai Modjo, sebab Salatiga dijadikan kota transit oleh Belanda. Nah untuk mengetahui gerak-gerik Belanda, Mbah Wahid kemudian ditugaskan sebagai mata-mata atau istilahnya telik sandi,” ujar Sadyali (65).

Meskipun dikenal sebagai tokoh penting di Salatiga, Mbah Abdul Wahid sebenarnya bukan warga asli kota ini, melainkan berasal dari Boyolali. Mbah Abdul Wahid yang ditempatkan di Salatiga sebagai mata-mata untuk mengawasi pergerakan Belanda, membuatnya menetap dan menghabiskan sisa hidupnya di sini.

“Mbah  Wahid itu seorang tokoh namun bukan orang sini, menurut keterangan Gus Muafiq, Mbah Wahid itu berasal dari Daerah Boyolali, tapi ga pasti Boyolalinya mana,” ujar Sadyali (65).

Berkat jasanya dalam membela tanah air dan menyebarkan agama Islam di daerah Salatiga, nama Mbah Abdul Wahid terkenal di penjuru kota bahkan di luar wilayah Salatiga. Tidak heran apabila makam mbah wahid dijadikan sebagai tujuan wisata religi dan tempat ziarah bagi masyarakat muslim. 

Kegiatan ziarah ke makam Mbah Abdul Wahid tak hanya sebatas datang dan berdoa di sekeliling makam, melainkan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan religius dan budaya yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Para peziarah yang datang berasal dari berbagai daerah, tidak hanya dari wilayah Salatiga dan sekitarnya saja, tetapi juga dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka datang secara perorangan maupun dalam bentuk rombongan. Diantara peziarah tersebut, ada pula santri-santri dari berbagai pondok pesantren yang datang untuk berdoa. Kehadiran para peziarah tersebut, menunjukkan bahwa makam Mbah Wahid memiliki daya spiritual yang kuat dan dipercaya membawa keberuntungan. 

Setibanya di makam, para peziarah biasanya langsung memulai dengan pembacaan doa, tahlil, dan pengiriman surat alfatihah untuk Mbah Abdul Wahid. Pada waktu-waktu tertentu, seperti malam Jumat, menjelang Ramadhan, bulan puasa, dan malam haul, kawasan makam menjadi semakin ramai. Masyarakat sekitar juga rutin mengadakan pengajian kubro, yakni pengajian akbar yang melibatkan tokoh agama, warga lokal, para peziarah, dan santri dari berbagai pondok pesantren. Tak hanya itu, ada pula tradisi ganti lurub, yaitu ritual penggantian kain penutup (lurub) pada makam atau cungkup makam, yang disertai dengan pembacaan doa sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah Abdul Wahid. 

Saat menjelang bulan suci Ramadhan, para warga mengadakan tradisi nyadran, yaitu membersihkan makam yang dilanjutkan dengan doa dan makan bersama sebagai bentuk ungkapan rasa syukur. Puncaknya adalah acara akhirussanah, yaitu kegiatan perayaan penutup tahunan yang diisi dengan acara tasyakuran, ceramah, doa bersama, dan pertunjukkan seni. 

Makam Mbah Abdul Wahid juga menyajikan pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Peziarah yang datang ke makam ini dapat menikmati pemandangan Gunung Merbabu yang gagah dari kejauhan.  Selain itu, udaranya yang sejuk membuat para pengunjung nyaman berziarah di makam ini. 

Pemandangan dari Makam Mbah Abdul Wahid

Sebagai warisan sejarah di masyarakat, makam Mbah Abdul Wahid tidak hanya menyimpan nilai religius. Adanya makam ini, merefleksikan kekayaan budaya lokal di bidang pariwisata yang masih terus dilestarikan. Tak hanya itu, makam Mbah Wahid juga menjadi ruang penguatan spiritual dan pelestarian tradisi Islam Jawa. Karenanya, masyarakat percaya bahwa ziarah ke makam ini dapat mendatangkan keberkahan. 

Dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian Kubro, ganti lurub, Nyadran, hingga penutup tahun atau Akhirussanah, menjadi bukti bahwa eksistensi makam ini terus dilestarikan di masyarakat. Kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan di sini menjadi salah satu bukti bahwa makam Mbah Abdul Wahid sangat bermakna bagi masyarakat setempat. Ramainya peziarah setiap malam Jumat, menjelang bulan Ramadhan, maupun saat bulan Ramadhan, menandakan bahwa makam Mbah Wahid tidak hanya bermakna untuk warga setempat saja, tetapi juga memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas yang ingin mengenang jejak perjuangan dan dakwah Mbah Abdul Wahid. 

Melihat antusiasme masyarakat dan tingginya minat terhadap wisata religi di Indonesia, makam Mbah Abdul Wahid memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh sebagai destinasi wisata religi unggulan di Kota Salatiga. Potensi ini tentu harus didukung oleh berbagai pihak, baik pemerintah, tokoh agama, masyarakat lokal, maupun pelaku pariwisata, untuk membangun ekosistem wisata religi yang menarik dan dapat menjadi sumber ekonomi warga sekitar. 

Bagi Anda yang ingin merasakan pengalaman religi dengan budaya dan sejarah yang kuat, makam Mbah Abdul Wahid di Salatiga adalah destinasi yang tepat untuk dikunjungi. Ziarah ke makam ini dapat pula memperkaya perjalanan spiritual di tanah Jawa yang sarat nilai sekaligus bentuk penghormatan kepada tokoh ulama besar, yakni Kyai Abdul Wahid. Keramahan warganya, kelestarian tradisi, dan indahnya pemandangan di sekitar makam, siap menyambut para wisatawan dan peziarah dengan hangat.

Gerbang Menuju Makam Mbah Abdul Wahid