BeritaKebudayaan

SAPARAN DUSUN TETEP: KEARIFAN LOKAL DAN WUJUD SYUKUR YANG BERPADU DALAM TRADISI

Penulis: Shaina Yanfa Kisawri, Zahwa Aulya Kartika Putri, Aisyah Zahra Azsyahra

Penyunting: Sri Mulyana Sunarsiningsih

Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, menggelar acara Merti Dusun di Sendang Gambir pada Rabu, 30 Juli 2025. Acara yang dilakukan di salah satu sumber mata air utama setempat ini merupakan acara inti dari Merti Dusun Tetep. Selain itu, acara ini juga sudah menjadi tradisi rutin tahunan yang wajib dilakukan setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Untuk itu, masyarakat lebih mengenal tradisi ini dengan sebutan “Saparan”. Meski tidak memiliki tanggal tetap yang spesifik, Saparan selalu diadakan pada hari Rabu Pon. 

Saparan Dusun Tetep melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti Paguyuban Sendang Gambir, tokoh masyarakat, hingga sanggar lokal yang menampilkan seni tari, salah satunya tari gambyong. Acara ini dihadiri oleh Walikota Salatiga, Pemerintah Kota, DPRD, Forkopimda, Camat Argomulyo, Kapolsek Argomulyo, Kepala KUA Kecamatan Argomulyo, Lurah Randuacir, Lurah Kumpulrejo, Para Kepala Sekolah SD dan SMP setempat. 

Hingga saat ini, Saparan Dusun Tetep termasuk tradisi yang masih terjaga kemurniannya karena memiliki serangkaian acara yang tetap setiap tahunnya. 

“Saparan ini rangkaian acaranya sama setiap tahun, selalu melibatkan tari gambyong sebagai kesenian tradisional yang dipentaskan maupun sebagai salah satu kelompok yang melakukan ritual di sendang,” ujar Budi (44), salah satu panitia acara. 

Sendang Gambir dipilih menjadi lokasi utama acara ini sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus sedekah bumi. Acara ini melibatkan tiga wilayah Tetep, yaitu Tetep Randuacir, Tetep Wates, dan Tetep Jagersari. Masing-masing daerah tersebut membawa satu gunungan yang berisi hasil bumi Dusun Tetep, seperti sayuran, umbi-umbian dan buah-buahan. Ritual dan doa di sendang serta jamuan tamu berupa rebusan menjadi bukti bahwa Merti Dusun Tetep selalu beriringan dengan rasa syukur masyarakat terhadap hasil bumi.

Gunungan Hasil Bumi

Paguyuban Sendang Gambir berkolaborasi dengan warga setempat untuk mempersiapkan acara ini. Sejalan dengan koordinasi panitia yang baik dan matangnya persiapan, acara ini terselenggara sesuai rencana. Pra acara dimulai pada Jumat Pon, 25 Juli 2025, dengan dandan kali dan kenduri. Pada hari sebelumnya, panitia lokal mempersiapkan tempat, mulai dari panggung, janur, sajen, dan lain sebagainya, dari pagi hingga malam hari. 

Hingga kini, acara Saparan di Dusun Tetep masih menjadi topik kebudayaan yang kerap dibicarakan oleh masyarakat lokal maupun luar daerah. Hal ini dapat dilihat melalui banyaknya masyarakat yang memenuhi lokasi acara, baik untuk menonton maupun berpartisipasi langsung dalam acara ini. Antusiasme masyarakat ini menjadi bukti bahwa Saparan Dusun Tetep memiliki daya tarik melalui keunikannya, salah satunya adalah rangkaian acara yang sarat akan adat Jawa.  

Antusiasme Masyarakat Dusun Tetep

Rangkaian acara saparan di Sendang Gambir berlangsung meriah namun tetap dengan suasana khidmat. Acara ini juga masih menjunjung kearifan lokal dengan mempertahankan serangkaian ritual adat. Kegiatan dimulai dengan prosesi kirab budaya yang menghadirkan rombongan penari, pembawa kendi, dan gunungan. Mereka datang dari arah yang berlawanan menuju ke lokasi acara. Kehadiran mereka disambut secara hangat oleh pembawa acara dan para sesepuh adat. 

Sesampainya di lokasi, acara dilanjutkan dengan ritual adat sekaligus doa bersama yang dipimpin oleh tiga pemuka agama, yaitu agama Islam oleh Bapak Jasman, agama Kristen oleh Bapak Kristiawan, dan agama Buddha oleh Bapak Sidiq. Kedua prosesi tersebut merupakan wujud toleransi antarumat beragama dan doa tolak bala. Acara ini juga menjadi bukti bahwa Salatiga merupakan kota toleran.

Menuju inti acara, Ketua Panitia, Bapak Mahmud, menyampaikan sambutannya di hadapan warga dan tamu undangan. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kegiatan saparan atau merti dusun bukan hanya menjadi tradisi tahunan semata, tapi juga menjadi momen yang paling dinanti-nantikan oleh masyarakat sebagai ajang kebersamaan.

“Tradisi kegiatan merti dusun merupakan kegiatan yang dinanti-nantikan dan tujuan utamanya adalah sebagai ajang silaturahmi, rasa memperkuat persaudaraan diantara warga khususnya di Salatiga,” ujar Mahmud dalam sambutannya.

Seni pertunjukan tradisional seperti penampilan Tari Gambyong Mari Kangen dan Tari Gambyong Pareanom juga turut mewarnai acara dan menambah nuansa meriah namun tetap sakral. Seni pertunjukan tersebut dipentaskan oleh anak-anak dari warga sekitar. Suasana khidmat kembali meriah saat penampilan tari berlangsung dengan sambutan antusias para tamu dan masyarakat.

Walikota Salatiga, dr. Robby Hermawan, Sp.OG, turut memberikan sambutan yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan santunan anak yatim. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan tradisi tahunan ini. 

“Merti dusun bukan sekedar tradisi namun juga merupakan manifestasi dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang sarat dengan makna spiritual. dalam tradisi ini terkandung nilai-nilai gotong royong, kesadaran menjaga alam, serta rasa syukur atas hasil bumi dan pelimpahan rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT. hadirin yang berbahagia saya menyampaikan apresiasi kepada paguyuban Sendang Gambir dan warga Tetep yang masih setia menjaga tradisi di tengah arus globalisasi dan kemajuan zaman,” ujarnya. 

Sambutan Walikota Salatiga

Acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Tayub Eling-eling. Tarian ini menjadi simbol pengingat atas pentingnya menjaga tradisi dan menghormati warisan leluhur. Penampilan ini juga mendapat sambutan antusias dan menjadi sebuah hiburan untuk para masyarakat. Beberapa tamu undangan turut serta dalam sesi tayuban yang disebut kijing sebagai bentuk partisipasi dan penghormatan terhadap budaya lokal.

Usai pertunjukan tayub, masyarakat dan tamu undangan bersama-sama mengikuti prosesi kenduri. Kenduri ini menjadi salah satu simbol rasa syukur atas berkah hasil bumi serta harapan akan keselamatan dan kesejahteraan bersama. Acara ditutup dengan doa oleh Bapak Sofyani Ahmad, disusul dengan proses pembagian air berkah dari tiga sumber mata air, salah satunya dari sumur Jager.  Kemudian, rebutan gunungan menjadi momen yang paling ditunggu seluruh masyarakat karena dipercaya akan membawa keberkahan. Warga dari berbagai usia sangat antusias merebutkan isi gunungan, mulai dari hasil bumi hingga jajanan tradisional.

Sebagai bagian dari upaya nguri-nguri budaya, tradisi Saparan yang dilaksanakan di Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Kota Salatiga, menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat mampu menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur secara konsisten. Tradisi ini bukan hanya sekedar ritual tahunan, tetapi telah berkembang menjadi sebuah kegiatan yang sangat bermakna bagi masyarakat setempat, sekaligus menjadi wadah untuk memperkuat solidaritas dan kebersamaan antar warga.

Kegiatan seperti tari Gambyong dan berebut gunungan yang selalu menghiasi perayaan Saparan tidak hanya mengandung nilai seni yang tinggi, tetapi juga sarat dengan pesan dan filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Tari Gambyong dengan gerakannya yang lemah gemulai menjadi simbol keindahan serta kelembutan masyarakat Jawa, sedangkan berebut gunungan menjadi momen penuh semangat yang menggambarkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. 

Melalui tradisi ini, masyarakat Dusun Tetep tidak hanya menampilkan kekayaan budaya yang mereka miliki, tetapi juga menunjukkan kepada dunia luar bahwa budaya lokal Salatiga masih hidup dan berkembang dengan baik. Hal ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri sekaligus motivasi agar budaya dan tradisi ini terus berkembang tak lekang oleh waktu.