BeritaKebudayaan

WILUJENGAN NAGARI: PRASASTI PLUMPUNGAN SEBAGAI TONGGAK HARI JADI KOTA SALATIGA

Penulis: Shaina Yanfa Kiswari, Zahwa Aulya Kartika Putri, Aisyah Zahra Azsyahra

Pemerintah Kota Salatiga menggelar upacara budaya bertajuk Wilujengan Nagari di Museum Salatiga pada Kamis, 24 Juli 2025, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-1275 Kota Salatiga. Upacara Wilujengan Nagari pertama kali digelar berdasarkan usulan Walikota Salatiga saat ini sebagai cara memperingati lahirnya Kota Salatiga yang ditandai dengan adanya Prasasti Plumpungan, prasasti bersejarah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kota Salatiga pada 24 Juli 750 Masehi.

Upacara ini terselenggara atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga, Dewan Kesenian Kota Salatiga, serta dibantu oleh Tim Event Organizer Salatiga Carnival Center. Selain memperingati sejarah kota, upacara ini juga bertujuan mengenalkan Museum Salatiga secara luas kepada masyarakat umum dan menampilkan sisi sejarah dan budaya Salatiga yang kaya dan menarik untuk dikaji lebih mendalam.

Di tahun sebelumnya, Museum Salatiga hanya dijadikan lokasi untuk doa bersama oleh lima pemuka agama, tetapi bukan merupakan rangkaian acara resmi peringatan hari jadi Kota Salatiga. Meski pertama kali, Wilujengan Nagari dipersiapkan dengan matang dari jauh-jauh hari. Persiapan ini meliputi komunikasi antar penyelenggara, rapat penyusunan kegiatan, dan penulisan sejarah hari jadi Kota Salatiga. Upacara ini terselenggara atas ide dari Walikota Salatiga. 

“Biasanya pada tanggal 24 juli setiap tahunnya hanya diadakan upacara, sidang paripurna, dan kirab budaya. Tetapi, di tahun ini Walikota Baru mengusulkan diadakannya acara ini di Prasasti Plumpungan Museum Salatiga. Maka dari itu, kirab diundur menjadi hari Sabtu.” Ujar Surotun (34), salah satu pengelola museum.

Wilujengan Nagari diadakan di Museum Salatiga bukan tanpa sebab. Surotun (34) menyebut bahwa Prasasti Plumpungan merupakan cikal bakal berdirinya Kota Salatiga. “Dipilihnya Museum Salatiga sebagai lokasinya adalah karena Prasasti Plumpungan dijadikan sebagai dasar hari jadi Kota Salatiga,” ujarnya. Persiapan Wilujengan Nagari di Museum Salatiga dimulai pada hari Jumat minggu lalu dengan membersihkan lingkungan museum, penataan ulang tata ruang, dan persiapan-persiapan lain, seperti konservasi beberapa cagar budaya yang berada di luar bangunan museum. Surotun, sebagai pengelola museum berfokus untuk mempersiapkan tempat sebaik mungkin untuk kenyamanan para tamu undangan.  

Rangkaian acara Wilujengan Nagari dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan persiapan menyeluruh di area Prasasti Plumpungan, Museum Salatiga. Panitia dan seluruh pendukung acara mulai menata perlengkapan ritual seperti tumpeng, kendi berisi air perwitasari, sesaji, kursi tamu, meja, dan perlengkapan lainnya. Adanya iringan alunan lembut gending membuat suasana menjadi syahdu dan sakral.

Menjelang pukul 13.45 WIB, perwakilan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) mulai mengambil posisi di sisi timur prasasti sebagai tanda dimulainya acara. Tamu undangan mulai berdatangan dan menempati tempat duduk yang telah disediakan. Tamu undangan yang hadir dalam acara ini berasal dari berbagai penting, Walikota, Wakil Walikota, Forkominda, Sekretaris Daerah, Kepala Disbudpar, Ketua Tim Penggerak PKK. Selain itu, acara ini melibatkan Dewan Kesenian Salatiga (DKS), serta komunitas seni dan budaya yaitu Sanggar cokekan dari Swara Gangsa.

Kehadiran FKUB Salatiga

Tepat pukul 14.00 WIB, upacara Wilujengan Nagari dimulai. Pembawa acara mulai membuka prosesi dengan menyampaikan maksud dan tujuan Wilujengan Nagari sebagai penghormatan terhadap sejarah asal-usul Kota Salatiga, yang ditandai oleh keberadaan Prasasti Plumpungan. Doa pembuka atau hastungkara dipimpin oleh KH. Syatibi dari FKUB, dengan tujuan untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi kota dan seluruh warganya.

Walikota Beserta Jajarannya

Selanjutnya, Walikota Salatiga memimpin prosesi penyiraman air perwitasari dari kendi pratalah (kendi istimewa) yang disiramkan mengelilingi prasasti. Tindakan ini dimaknai sebagai bentuk penyucian dan penghormatan terhadap Prasasti Plumpungan. Prosesi ini ditutup dengan peletakan kendi di tengah area, yang kemudian dipecahkan sebagai simbol pelepasan energi suci dan pengukuhan tekad bersama. Momen ini diiringi dengan bunyi gamelan khas yang menambah kesan sakral.

Prosesi Penyiraman Prasasti Plumpungan

Setelah prosesi ritual selesai, Walikota Salatiga melanjutkan dengan pemotongan tumpeng yang telah dipersiapkan oleh panitia. Potongan pertama diberikan kepada Sekretaris Daerah dan Ketua Umum Hari Jadi Kota Salatiga. Selanjutnya tamu dipersilakan menikmati sajian makanan yang telah disediakan panitia. Sambil menikmati hidangan, para tamu juga bisa menyaksikan penampilan seni dari Sanggar cokekan dari Swara Gangsa. 

Wilujengan Nagari hadir sebagai salah satu sarana tercapainya tema Hari Jadi Kota Salatiga di tahun ini, yaitu Bergerak Berdaya. Sambutan dari Walikota Salatiga menjadi bagian paling berkesan dari acara ini. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya menjaga nilai sejarah dan merawat semangat persaudaraan yang menjadi dasar berdirinya sebuah julukan untuk Salatiga sebagai kota toleran melalui temanya.  

“Tahun ini, Hari Jadi Kota Salatiga mengusung tema Bergerak Berdaya yang merupakan penyederhanaan dari tema besar BEDA yaitu Bergerak, Energik, Dinamis, dan Adaptif,” ujar Walikota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp. OG.

Sambutan Walikota Salatiga

Rangkaian acara Wilujengan Nagari ditutup dengan iringan gending sebagai penghormatan akhir. Panitia berdiri dalam barisan untuk mengantar para tamu pulang dengan ucapan terima kasih dan harapan akan keberlanjutan tradisi ini agar dapat terus diadakan. Suasana haru, hangat, dan khidmat mengiringi akhir dari sebuah prosesi adat yang sarat makna sejarah, budaya, dan histori.

“Acara ini berjalan dengan sangat khidmat dan pastinya seru karena bisa bertemu banyak orang,” ujar Warno (50), salah satu tamu undangan Wilujengan Nagari. 

Wilujengan Nagari yang melibatkan Museum Salatiga, terutama Prasasti Plumpungan, merupakan bukti nyata bahwa Kota Salatiga masih senantiasa menjaga dan merawat cikal bakalnya di usia yang ke-1275 ini. Adat Jawa yang kental dan gending yang mengiringi prosesi upacara Wilujengan Nagari menandakan bahwa Kota Salatiga tetap menjaga keberagaman dan kearifan lokal di tengah derasnya arus modernisasi. Sebagai kota tertua kedua di Indonesia, Salatiga memilih merayakannya dengan sesuatu yang bermakna historis melalui upacara Wilujengan Nagari untuk mengenang cikal bakalnya dan rasa syukur atas bertambahnya usia Kota Salatiga. 

Sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Salatiga yang ke-1275, Wilujengan Nagari membuka ruang bagi masyarakat untuk turut menjadi pewaris budaya. Pelaksanaan perdananya tahun ini menandai langkah awal untuk dijadikan agenda tahunan yang berkelanjutan. Museum Salatiga yang menjadi lokasi upacara ini diharapkan dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai objek pariwisata sejarah yang dapat menjadi sarana edukasi dan tempat untuk kegiatan kebudayaan lainnya. Surotun (34), salah satu pengelola museum yang turut menyukseskan acara ini, menyampaikan harapannya agar upacara ini mampu menarik minat pariwisata sekaligus memberikan kesadaran kepada masyarakat Salatiga bahwa kota mereka memiliki warisan sejarah penting berupa Prasasti Plumpungan. 

Harapan saya dengan adanya festival ini ya dapat mengundang kepariwisataan seperti itu, dan agar semua masyarakat Salatiga itu tau bahwa kita juga memiliki prasasti yang menjadi cikal-bakal berdirinya Kota Salatiga. Upacara ini secara tidak langsung juga menjadi sarana memperkenalkan Museum Plumpungan Salatiga kepada masyarakat, ” ujarnya.

Selamat Hari Jadi ke-1275 Kota Salatiga. Mugi tansah rahayu, gemah ripah loh jinawi, warga guyub rukun, lan jati diri budaya kitha tansah kaesthi kanggo generasi sabanjure.